Connect with us

Hikmah

Belajar Memaafkan

Published

  on

belajar memaafkan
Foto : Milada Vigerova

“Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan juga tidak dianugerahkan melainkan kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat [41]: 34-35)

Salah satu cara menolak kejahatan adalah memberi maaf kepada orang yang berbuat salah. Memberi maaf merupakan ajaran Islam yang sangat mulia.

Memberi maaf termasuk kebaikan hati yang dapat menghindarkan diri dari permusuhan dan dendam yang tidak pernah padam.

Menurut Ibn Al-Qayyim, hakikat memberi maaf adalah menggugurkan hak untuk membalas dendam atau melawan karena kemurahan hati yang bersangkutan, meskipun ia dapat melampiaskan dendam dan permusuhannya.

Jadi, pemaaf adalah orang yang tidak mengambil haknya untuk menyakiti, mencaci maki, memusuhi orang lain yang telah menzhaliminya, meskipun ia sanggup melakukannya.

Orang yang bermurah hati seperti itulah yang dijanjikan oleh Allah SWT pahala (kebaikan dunia dan akhirat). “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan serupa. Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya (menjadi tanggungan) Allah. Sungguh Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim.” (QS. Asy-Syura [42]: 40).

Memaafkan adalah puncak kemuliaan hati orang yang disakiti atau dizhalimi. Dalam sejarah Islam, pemberian maaf (pengampunan) tidak hanya menarik simpati musuh-musuh Islam untuk memeluk Islam, tetapi juga menunjukkan betapa keluruhan Islam dibangun atas fondasi kemanusiaan yang kokoh: persaudaraan, persatuan, perdamaian, dan toleransi.

Musthafa as-Siba’i, dalam bukunya, Min Rawa’i Hadharatina (Di antara Pesona Peradaban Kita), menyatakan memberi maaf adalah kata kunci rekonsiliasi dan sinergi potensi umat manusia.
Ingatlah bagaimana Nabi Muhammad SAW memperlakukan orang-orang kafir Quraisy yang dalam kondisi kalah dan bersalah saat terjadi Fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah).

Beliau bertanya kepada mereka: “Apakah kalian mengira bahwa aku akan melakukan balas dendam terhadap kalian?” Mereka menjawab: “(Kami berharap engkau) berbuat yang terbaik untuk kami, wahai saudaraku.” Nabi SAW pun memberi pengampunan massal: “Pergilah kalian, kalian semua itu bebas (tidak ada yang dihukum)!”

Memberi maaf itu tidak selalu mudah karena kadar kesalahan orang lain terhadap kita ada yang besar (sulit dimaafkan) dan ada yang kecil.

Prinsip utama bagi yang bersalah, terutama kepada sesama, adalah meminta maaf dan sekaligus mengembalikan hak-hak yang pernah diambilnya secara tidak halal kepada yang berhak. Sedangkan kewajiban sebagai Muslim adalah memberi maaf kepada orang pernah bersalah kepadanya.

“Allah tidak menambah seorang hamba karena mau memberi maaf melainkan kemuliaan; dan tidaklah seseorang yang bersikap rendah hati di hadapan Allah melainkan akan diangkat oleh Allah derajatnya.” (HR. Abu Daud).

Memberi maaf juga termasuk sifat orang bertaqwa (QS. Ali Imran [3]: 133), dan sekaligus merupakan manifestasi dari sikap meneladani sifat Allah yang Maha Penerima taubat, Pemaaf, dan Pengampun.
Belajar memaafkan kesalahan orang lain sejatinya merupakan manifestasi dari seni menikmati hidup bahagia. Alangkah menderita dan tersiksanya, jika seseorang terus-menerus menyimpan rasa dendam kepada orang lain.

Alangkah sengsaranya jika hati diberati rasa emosi dan amarah yang tidak berkesudahan. Belajar memaafkan jauh lebih mulia daripada menunggu orang lain meminta maaf kepada kita. Karena itu, hidup ini akan lebih indah jika ungkapan tiada maaf bagimu diubah menjadi aku sudah maafkan semuanya.

Memaafkan bukan berarti menafikan penegakan hukum dan keadilan, melainkan mengedepankan moral kemanusiaan. Mereka yang terbukti bersalah secara hukum harus ditindak tegas.
Jika hukuman sudah dijalani dan yang bersangkutan sudah menyadari kesalahannya, maka dosa sosial dan moralnya perlu dimaafkan. Jadi, kita semua perlu terus belajar menjadi arif, agar kita tidak mudah terjebak dalam kemarahan permanen.

Ramadhan merupakan bulan penuh permaafan. Karena itu, Ramadhan kali ini harus dijadikan sebagai momentum pemaafan bagi sesama demi terciptanya kedamaian dan keharmonisan sosial.

Muhbib A Wahab, Kepala Program Magister Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/07/18/mq43jd-belajar-memaafkan)

Continue Reading
Advertisement
Comments
Advertisement

Artikel Terbaru

ciri ciri muslim optimis ciri ciri muslim optimis
Materi Tarbiyah4 weeks ago

Ciri-ciri Muslim Muslimah Optimis

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Optimis adalah memandang segala sesuatu dengan pengharapan yang baik. Berkaitan dengan optimis, kita bisa...

silabus materi tarbiyah silabus materi tarbiyah
Materi Tarbiyah4 weeks ago

Silabus Materi Tarbiyah

Silabus merupakan rencana pembelajaran yang ditujukan untuk suatu kelompok tertentu dengan tema yang sudah ditetapkan. Didalam silabus berisi cakupan standar...

Materi Tarbiyah4 weeks ago

Pengertian Tarbiyah

Materi Tarbiyah4 weeks ago

Silabus dan Materi Tarbiyah Lengkap

Tarbiyah membantu setiap muslim agar tetap di jalan Allah. Menjadikan setiap manusia untuk me re-charge kembali iman nya. Pun mempererat tali...

Alquran Sumber Kebahagiaan Alquran Sumber Kebahagiaan
Alqur'an & Hadist1 month ago

Alquran itu Sumber Kebahagiaan

Alquran adalah sumber hidayah, penyembuhan jiwa, pengingat, rahmat dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Dia adalah sumber mata air kebahagiaan...

hijrah hijrah
Lainnya1 month ago

Hijrah

Hijrah disini yang akan dibahas adalah mengenai fenomena yang terjadi di muslim Indonesia khususnya. Banyak saudara-saudara kita baik non maupun...

amalan muslimah dibulan dzulhijjah amalan muslimah dibulan dzulhijjah
Kajian1 month ago

Amalan Muslimah Dibulan Dzulhijjah

Tanggal 13 Agustus 2018 sudah memasuki bulan dzulhijjah. Sebagai muslimah yang taat, perlu adanya melakukan amalan muslimah dibulan dzulhijjah. Kenapa...

Mengenang Kembali Sejarah Hari Raya Idul Adha Mengenang Kembali Sejarah Hari Raya Idul Adha
Sejarah2 months ago

Mengenang Kembali Sejarah Hari Raya Idul Adha

Tahun 2018, menurut kalender hari raya idul adha jatuh pada tanggal 22 Agustus 2018. Tidak ada salahnya tulisan kali ini...

panduan menjalankan puasa ayyamul bidh panduan menjalankan puasa ayyamul bidh
Puasa3 months ago

Panduan Menjalankan Puasa Ayyamul Bidh

Panduan menjalankan puasa ayyamul bidh terbilang mudah dalam pelaksanaannya. Cukup dengan mengucapkan niat puasa ayyamul bidh dan menjalani puasa sesuai...

belajar memaafkan belajar memaafkan
Hikmah3 months ago

Belajar Memaafkan

“Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara...

loading...

Copyright © 2017-2018 HMJ Media. All Right Reserved.